``Mata terbuka; Tangan siap sedia; Hati setia``

Berjuang Untuk Para Orang Muda

Menjelang akhir dekade 1950-an, kondisi ekonomi Indonesia memang sangat tidak bagus, bahkan dapat dikatakan terpuruk sampai ke dasar. Untuk membendung inflasi yang naik dengan luar biasa, pada tanggal 29 Agustus 1959 pemerintah mengeluarkan aturan yang memotong nilai uang kertas nominal Rp. 500,- menjadi Rp. 50,-, nominal Rp. 1.000,- menjadi Rp. 100,-, dan membekukan simpanan di bank yang melebihi nilai Rp. 25.000,-. Saat itu banyak anak-anak yang tidak mungkin bisa menikmati bangku sekolah. Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja sudah sangat sulit. Harga kebutuhan hidup terus merayap naik, terutama yang paling menyulitkan adalah kenaikan harga pangan terutama beras.

Melihat kondisi anak-anak yang tidak bisa sekolah karena harus bekerja membantu kehidupan perekonomian orang tua, sangat mudah ditemui banyak anak-anak yang berdagang di pasar kawasan kota, menimbulkan keprihatinan di kalangan biarawan. Keprihatinan ini kemudian bersambut dengan ditanggapi secara positif oleh pihak Paroki (PGDP St. Petrus dan St. Paulus) dan pimpinan yang saat itu juga menjadi guru SMP Budi Mulia (Bpk. Tio Tjong Hoat dan Bpk. A. Souw Sioe A). Kemudian ketiga pihak tersebut berkumpul untuk pertama kalinya pada bulan Juni 1961. Pada pertemuan tersebut disepakati untuk membentuk sebuah sekolah nasional setingkat Sekolah Menengah Pertama yang akan beroperasi pada siang sampai sore hari dengan memanfaatkan dua ruang kelas milik Sekolah Budi Mulia. Ciri dan dasar sekolah tersebut adalah Katolik.

Berbekal hasil pertemuan tersebut, Pak Tio (Bpk. Tio Tjong Hoat/Bpk. Petrus Canisius Josep Djokosetio) mulai berkeliling kota untuk mengumumkan keberadaan SMP Don Bosco dalam rangka mencari siswa baru. Akhirnya, pada bulan Agustus 1961, SMP Don Bosco mulai beroperasi yang menjadi embrio awal sekolah-sekolah Don Bosco dibawah naungan Yayasan Panca Dharma pun mulai menggeliat.

Semangat untuk membantu anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan semakin berkobar. Dibawah tekanan ekonomi yang makin berat, mereka pun berencana untuk membuka SD Don Bosco. Dimana saat itu, disekitar Mangga Besar hanya terdapat empat sekolah dasar Katolik.

Upaya membuka SD Don Bosco mendapat dukungan dari berbagai pihak di Paroki Mangga Besar. Romo Bakker, S.J., sebagai Pastor Kepala Paroki St. Petrus Paulus, Romo Sigismund A. Winters, sebagai Kepala Yayasan Budi Mulia, dan Suster Inigo, sebagai perwakilan dari TK St. Yosef, mendorong untuk segera dibentuk SD Don Bosco. Dukungan yang besar tersebut tentunya memberikan tambahan semangat yang luar biasa. Hal tersebut dibuktikan dengan beroperasinya SD Don Bosco pada tanggal 1 Agustus 1962 yang dimulai dengan 96 anak. Sama seperti SMP Don Bosco yang beroperasi dari siang sampai sore, begitu pula dengan SD Don Bosco yang baru berdiri. Dengan dibukanya SD Don Bosco dan ditambah dengan adanya tambahan siswa baru kelas satu SMP Don Bosco, dibutuhkan penambahan ruang kelas milik Sekolah Budi Mulia dari semula tiga kelas menjadi total lima kelas.

Walapun sudah beroperasi sejak tahun 1961, SMP Don Bosco baru terdaftar di Kantor Inspeksi Daerah Departemen P&K pada tahun 1963. Oleh karena itu, SMP Don Bosco kemudian menetapkan hari lahirnya pada tanggal 1 Agustus 1963. Setahun kemudian, pada tahun 1964, SMP Don Bosco pertama kali mengikutsertakan siswanya pada Ujian Negara dengan mengikutkan 65 siswa. Dari seluruh siswa yang ikut serta dalam ujian negara, lulus 62 siswa.

Kelahiran Dalam Ujian Berat

Puncak keterpurukan ekonomi Indonesia akhirnya terjadi di tahun 1966 yang ditunjukkan dengan angka inflasi sebesar 650%, sebuah hiper-inflasi yang sangat dahsyat. Pengelolaan sekolah pun semakin hari semakin bertambah berat, tidak hanya dari segi finansial saja. Pihak PGDP tidak sanggup untuk mengelola sekolah-sekolah Don Bosco tersebut. Akhirnya pada tahun 1968, dengan persetujuan dan restu dari Kepala Paroki St. Petrus Paulus, Romo Schouten, S.J., maka pengelolaan sekolah-sekolah tersebut ditawarkan kepada Pak Tio dan Pak Souw (Bpk A. Souw Sioe A/Bpk. Adrianto Jusuf Susanto).

Karena berbagai macam pertimbangan, Pak Tio menghubungi Pak Ong (Bpk. Rahardjoni Johannes Rengkuan), seorang pedagang batik yang saat itu juga memiliki lembaga kursus tata buku di daerah Jl. Gunung Sahari. Pak Ong menyanggupi untuk membantu Pak Tio, sahabatnya sejak kecil, dan kemudian Pak Souw mengajak Pak Hardjo (Bpk. Ignasius Rubianto Soehardjo), seorang pengusaha Biro Bangunan. Walaupun Pak Hardjo seorang pengusaha, beliau pun mempunyai pengalaman di bidang pendidikan dengan menjadi pengajar di Vikra (Vincentius Kramat), sebagai pendidik vokasi perbengkelan (kayu, las, dan listrik). Anggota tim yang terakhir bergabung adalah seorang teman yang diajak oleh Pak Hardjo, yaitu Pak Pangat (Bpk. Johannes Josep Soepangat Reksowigoeno, S.H.), seorang pegawai perusahaan pemerintah dibidang perumahan. Sama seperti Pak Hardjo, Pak Pangat juga bergelut dibidang pendidikan sebagai guru dan Kepala Sekolah Fransiskus Kramat. (Sebagai catatan: Pak Tio juga seorang pengusaha. Beliau mengisi waktu luang, antara lain dengan membuat lilin dan menjualnya. Selain itu Pak Tio juga sempat berjualan lencana untuk tentara dan juga mengekspor burung Gelatik ke Belanda. Hanya Pak Souw yang saat itu murni menjadi seorang guru. Tidak mengherankan jika kemudian Pak Souw dipercaya untuk memimpin bidang pendidikan).

Kelima orang tersebut kemudian bersepakat dan bersedia menerima penugasan untuk mengambil alih operasional sekolah-sekolah Don Bosco. Berangkat dari kediaman Pak Ong di Jl. Cikini Raya 109 pav., mereka menuju kantor notaris Frederik A. Tumbuan untuk kemudian menandatangani Akte Pendirian Yayasan Panca Dharma. Hari bersejarah tersebut adalah hari Jumat, 26 Januari 1968. Selanjutnya, Pak Ong meminjamkan sebuah ruangan di bagian depan paviliun tempat tinggalnya untuk dipakai sebagai kantor Sekretariat Yayasan Panca Dharma.

Kekompakan yang luar biasa dalam situasi ekonomi yang benar-benar membebani, akhirnya langkah awal mereka membuahkan hasil. Walau belum sesuai mimpi tetapi anugerah berikut patut disyukuri, yaitu dengan berdirinya SMA Don Bosco pada tanggal 9 Januari 1969 yang juga beroperasi pada siang dan sore hari, juga dilokasi yang sama, yaitu di gedung sekolah SMA Budi Mulia, di Jl. Mangga Besar Raya no. 135, Jakarta.

Semua keahlian dicurahkan. Gabungan antara kemampuan di bidang bisnis dan bidang pendidikan untuk kelangsungan sekolah-sekolah Don Bosco diusahakan secara total demi mengatasi kondisi yang ada saat itu. Tentunya tidak semua usaha menguntungkan, ada juga yang merugi. Tetapi hal itu tidak pernah menyurutkan langkah mereka untuk terus berjuang. Semangat mereka tetap membara dibarengi tekad tulus dan derap kompak tanpa kenal lelah, mereka terus berjuang.

Perjuangan mereka juga dibantu oleh para guru dan karyawan yang ikut berjuang untuk membesarkan Sekolah-sekolah Don Bosco menjadi seperti sekarang.

Di Timur Matahari Mulai Bersinar

Mimpi yang sudah dimiliki para Pendiri Yayasan Panca Dharma dari tahun 1969 agar dapat memiliki gedung sendiri akhirnya menunjukkan titik terang. Sekitar tahun 1974, proses pembelian tanah mulai dilakukan antara Yayasan Panca Dharma dengan pihak pengelola Perumahan Pulo Mas. Proses tersebut berlanjut sampai dengan tahun 1977 dimana akhirnya Yayasan Panca Dharma menerima hak untuk menggunakan tanah seluas 4.250 M2 yang berlokasi di perumahan Pulo Mas, tepatnya di Jl. Pulo Mas Barat V, Jakarta Timur untuk dipergunakan sebagai fungsi pendidikan.

Di tanah yang masih berupa rawa-rawa tersebutlah Yayasan Panca Dharma mulai, dengan percaya diri, menapaki masa depan dengan lebih pasti. Hal tersebut juga didukung oleh situasi sosial ekonomi dan sosial politik yang sudah stabil dan membaik. Tentunya pencapaian ini juga merupakan hasil kerja keras para guru yang ikut membidani sekolah-sekolah Don Bosco di Mangga Besar, sehingga kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah Don Bosco mendapat pengakuan dari para orang tua dan masyarakat.

Dengan dibantu oleh Pemerintah DKI, proses pembangunan pun mulai dikerjakan. Walau proses pembangunan sempat berhenti di tahun 1979, pada tahun 1981 akhirnya operasional TK, SD, dan SMP Don Bosco di Pulo Mas dapat dimulai. Kegiatan tersebut tepatnya dimulai pada tanggal 20 Juni 1981. Meski proses pembangunan belum selesai 100%, hal tersebut tidak mengurangi semangat Yayasan Panca Dharma dan para guru yang terus berjuang demi masa depan siswa-siswa yang sudah dipercayakan kepada mereka.

Saat itu SD, SMP, dan SMA Don Bosco di Mangga Besar masih berlangsung, sehingga sekolah yang terletak di Pulo Mas mendapat sebutan Don Bosco 2, Pulo Mas. Dengan beroperasinya sekolah Don Bosco 2 dan selesainya pembangunan gedung di Pulo Mas, maka diputuskan untuk memindahkan seluruh operasional Yayasan Panca Dharma ke Pulo Mas. Akhirnya SD Don Bosco di Mangga Besar tidak menerima siswa baru untuk tahun ajaran 1981/1982 dan kemudian disusul oleh SMP dan SMA untuk tahun ajaran 1986/1987.

Akhirnya babak baru pun dimulai dengan menutup babak awal yang penuh kenangan yang mempunyai arti sangat mendalam bagi para pelaku sejarah.

Mulai pembangunan pada bulan Juli 1990, pada bulan Juli tahun 1991, bangunan tiga lantai di Jalan Raya Bulevar Timur resmi digunakan untuk penyelenggaraan sekolah mulai dari SD dan berangkat dengan 40 siswa. Bangunan sekolah berdiri di atas tanah seluas 4,400 meter persegi terletak di lokasi yang sangat strategis karena terletak di tepi jalan utama dan dilewati oleh angkutan umum. Bangunan ini memiliki ruang kelas sebanyak 26 ruangan, 1 ruang perpustakaan , sebuah aula dengan kapasitas 200 siswa, dan satu ruang laboratorium untuk pelajaran IPA. Gedung tersebut digunakan bersama untuk penyelenggaraan sekolah di pagi hari baik SD, SMP maupun SMA.

Sejarah baru sekolah Don Bosco Kelapa Gading sebenarnya sudah dimulai dari TK Don Bosco 1 pada tahun pelajaran 1989/1990, dimana Yayasan Panca Dharma mengambil alih operasional sebuah TK (TK St. Anna) di Jl. Kelapa Cengkir, Kelapa Gading.

Pada tahun 1990/1991 dibuka SD Don Bosco 1 (kelas siang) yang masih berlokasi di Pulo Mas. Kemudian setelah gedung di Bulevar Timur, Kelapa Gading selesai dibangun, maka proses pemindahan SD Don Bosco 1 dari Pulo Mas dimulai dan memulai proses pembelajaran untuk tahun ajaran 1991/1992. Selain itu, dibuka pula kelas baru tahun ajaran 1991/1992 untuk kelas satu pada tahun yang sama di SMP dan SMA Don Bosco 1.

Beberapa guru yang sebelumnya mengajar di Mangga Besar, memutuskan tetap bergabung dengan SMP Don Bosco 1. Kehadiran sekolah SD dan SMP Don Bosco di Kelapa Gading merupakan kabar gembira bagi masyarakat dan umat sekitar sekolah.  Reputasi Don Bosco Mangga Besar dan nama baik Don Bosco Pulomas telah berdampak positif terhadap apresiasi masyarakat pada kehadiran sekolah Don Bosco di Kelapa Gading.

Demikianlah pada dekade itu Sekolah Don Bosco 1 menjadi pilihan pendidikan formal  bagi masyarakat Kelapa Gading dan sekitarnya.

Mengapa Don Bosco Kelapa Gading dinamakan menjadi Don Bosco 1?

Saat Don Bosco di Pulo Mas mulai beroperasi pada tahun 1981, Don Bosco Mangga Besar masih beroperasi. Oleh karena itu kemudian Don Bosco di Pulo Mas dinamakan Don Bosco 2, dan penamaan Don Bosco Mangga Besar tidak berubah nama. Setelah Don Bosco di Kelapa Gading beroperasi, maka disepakati untuk memberikan nama Don Bosco 1, sebagai pengganti Don Bosco Mangga Besar.

Berbekal pengalaman dan keberhasilan dalam membangun dan mengembangkan sekolah di Pulomas dan Kelapa Gading, tantangan untuk membuka sekolah baru di Cikarang, di luar DKI-pun ditanggapi Yayasan Panca Dharma dengan positif. Untuk memperluas karya pelayanan pendidikan bagi kaum muda, Yayasan membuka sekolah Don Bosco baru di kawasan perumahan di luar Jabodetabek, tepatnya di Perumahan Taman Sentosa Cikarang, kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Bertempat di gedung bekas kantor pemasaran, tahun 1998 mulai menerima murid TK dan SD. Pada tahun 2003 sesudah gedung 3 lantai selesai dibangun, maka kegiatan belajar mengajar dari kantor pemasaran pindah secara permanen di gedung tersebut. Sekolah ini dinamakan Don Bosco 3.

Kehadiran TK dan SD Don Bosco di Cikarang mendapatkan tanggapan yang positif dari masyarakat. Jumlah siswa terus meningkat dari tahun ke tahun.  Untuk memberikan sekolah lanjutan dari lulusan SD tersebut, maka pada tahun 2004 dibukalah SMP Don Bosco 3. Bersama dengan itu dibangun lagi gedung baru yang baru bisa digunakan pada bulan Juni 2007.

Pada tahun 2008 pihak Yayasan memutuskan untuk membuka SMA Don Bosco 3 di komplek yang sama. Hubungan yang baik antara sekolah dan Paroki Bunda Teresa Cikarang telah membuat jumlah siswa yang mendaftar ke TK sampai dengan SMA Don Bosco 3 semakin meningkat.

Buku 50 Tahun Sekolah Don Bosco